Pendirian SMA (Sekolah Menengah Atas) Negeri 12 jakarta, tidak terlepas dari prakarsa masyarakat yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Nasional. Sebelumnya, nama sekolah, SMA Persiapan Negara yang berlokasi di Cipinang, Jakarta Selatan. Saat itu, tempat untuk mengadakan kegiatan belajar-mengajar adalah Aula Balai Desa dan Gudang Pertanian. Setelah memperoleh lahan, dibangunlah lokal semi permanen yang terdiri dari 4 ruangan. Jumlah siswa yang bersekolah waktu itu, 72 orang. Akhirnya, berdasarkan SK Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan nomor : 86/S.K/B III tanggal 21 September 1964, pada tanggal 1 Agustus 1964 diresmikanlah SMAN 12 Jakarta.
Seiring bertambahnya siswa yang belajar di sekolah itu, tahun 1965 - 1966 gedung SMAN 12 Jakarta, mulai dibangun secara permanen. Pada 1991, gedung sekolah mengalami renovasi total. Sekolah ini dibangun menjadi 3 lantai. Selama pengerjaan pembangunan sekolah, siswa-siswanya menggunakan gedung SMP Negeri 255 sebagai tempat belajar. Pada 1992/1993, gedung sekolah bisa digunakan kembali dan peresmiannya dilaksanakan oleh Gubernur DKI (Daerah Khusus Ibu Kota) Jakarta, Wiyogo Atmodarminto. Tahun ajaran 1999 - 2000 sekolah mendapat tambahan kelas, sehingga para siswa semuanya bisa masuk pagi.
Tentu saja dengan bertambahnya kelas, berpengaruh juga dengan manajemen sekolah. Menurut Kepsek SMAN 12 Jakarta, Drs. H. Muhammad Takdir, MM, , untuk mengelola sebuah sekolah, para pendidik mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 19 tentang standar pendidikan Nasional, bahwa di dalam manajemen sekolah, disamping ada kepala sekolah, yang merupakan kepala satuan pendidikan, minimal harus ada tiga wakil, dan komite sekolah.
"Untuk memanage sekolah ini, kami mempunyai rencana strategis (Renstra). Berdasarkan program yang kita buat. Ada program jangka pendek, ada juga jangka panjang, jangka menengah. Renstra ini kita lihat secara analisa swot, apa yang menjadi kekuatan sekolah ini kedepannya dan target mencapai visi dan misi tersebut harus bagaimana, serta apa yang menjadi peluang agar kita bisa meraih yang lebih baik, dan apa sih yang menjadi kekuatan dan kelemahan kita. Kebijakan-kebijakan yang kita ambil, tentu kebijakan yang disepakati bersama dalam rapat kerja. Jadi ada pembagian tugas yang jelas, transparan. Kami menamakan rapat kerja itu reformasi school reform, jadi kita mengadakan perubahan pada beberapa hal, untuk mengarah ke peningkatan SDM yang ada. Jujur saja, di dalam pengelolaan ini, yang menjadi ujung tombak kita adalah para guru. Karena gurulah yang langsung berhadapan dengan murid. Gurulah yang tahu benar bagaimana potensi anak itu bisa berkembang," ujar Drs. H. Muhammad Takdir.
Mutu dan keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar, dari tahun ke tahun mengalami pasang surut. Berkat usaha guru, bersama pimpinan sekolah dan dibantu oleh karyawan SMAN 12, sekolah ini tercatat sebagai sekolah unggulan di Jakarta Timur pada tahun ajaran 2003/2004. Saat ini, SMAN 12 termasuk sekolah unggulan di Provinsi DKI Jakarta.
Di samping guru, peran kepala sekolah juga penting, sebab, selain sebagai motivator, ia juga merupakan penentu berkembang atau tidaknya sekolah yang dipimpinnya. Nama-nama kepala sekolah yang telah memajukan hingga SMAN 12 bisa seperti sekarang, yaitu : Drs. Sri Suharno ( 1964 - 1965), Drs. Yoelius Yoesoef ( 1965 - 1975), Drs. Djoko waliadi ( 1975 - 1980 ), Drs. H.A. Madjid Hasan ( 1980 - 1985 ), Z. Wijasti Trihadi ( 1985 - 1990 ), Drs. Giat Suwarno ( 1990 - 1992 ), Drs. Moh. Ali Nuh ( 1992 - 1994 ), Drs. H. Battimus ( 1994 - 1996 ), Drs. Wasis Ekyono ( 1996 - 2001 ), Drs. H. Tamsis Abu Mahasin, MM ( 2001 - 2004), Drs. H. Muhammad Takdir, MM ( 2004 - sekarang ).
dikutip dari: (http://www.dikmenum.go.id/isi%2012%20jakarta.htm)
Selasa, 21 Agustus 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar